Rabu, 21 Desember 2011

Menulis Resensi


1.   Pengertian Resensi
Suatu jenis tulisan lain yang mempunyai titik singgung dengan ringkasan dan ikhtisar adalah resensi. Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengen ai sebuah hasil karya atau buku. Tujuan resensi adalah manyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut untuuk mendapat sambutan dari masyk mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
                                                                                    
2.   Dasar Resensi
Untuk memberi pertimbangan atau penilaian secara obyektif atas sebuah hasil karya atau buku, penulis harus memperhatikan dua faktor, yaitu: pertama, penulis resensi  harus memahami sepenuhnya tujuan dari pengarang aslinya, dan kedua ia harus manyadari sepenuhnya apa maksud membuat resensi itu.
Tujuan pengarang buku yang dibuat resensinya itu dapat diketahui dari kata pengantar atau bagian pendahuluan buku itu. Penulis resensi harus menemukan apa tujuan pengarang dalam menulis buku itu. Apakah tujuan buku itu betul-betul direalisasikan dalam seluruh buku itu. Dengan manilai kaitan antara tujuan sebagaimana ditulis dalam kata pangantar atau pendahuluan serta realisasinya dalam seluruh karangan itu. Penulis resensi akan mempunyai bahan yang cukup kuat untuk dapat menyampaikan sesuatu kepada para pembaca.
Seperti halnya dengan semua tulisan yang lain, resensi harus dibuat dengan mamperhatikan kualitas pembacanya. Pembaca dalam hal ini tidak lain dari semua langganan majalah atau mass media yang memuat resensi itu.
Singkatnya penulis resensi harus benar-benar memperhatikan kewajiban mana yang harus dipenuhinnya dalam membuat resensi itu, yaitu: kewajibannya terhadap pembanca, dan bagaimana penilaiannya atas buku itu.

3.   Sasaran-sasaran Resensi
           Untuk menbuat resensi yang baik, penulis harus menetapkan sasaran yang harus dicapai. Pokok-pokok yang dapat dijadikan sasaran penilaian sebuah buku atau karya adalah:
a.          Latar Belakang
Sering kali penulis tidak tahu bagaimana harus mulai dengan resensinya. Akan sangat bermanfaat bagi para pembaca bila panulis mulai manyajikan latar belakang buku itu.
Penulis dapat mamulia dengan menemukakan tema dari karangan itu. Apa yang sebenarnya yang ingin disampaikan buku atau pengarang melalui bukunya itu.
Deskripsi mengenai buku itu bukan hanya menyangkut isinya, tetapi juga dapat menyangkut badan man yang telah menrbitkan buku itu, kapan dan di mana diterbitkan, berapa tebalnya dan kalu pelu formatnya. Penulis resensi dapat pula memperkenalkan pengarangnya: nama, keterangan yang diperolehnya, buku atau karya mana yang telah ditulinya, atau mengapaia sampai menulis bulu itu.
b.         Macam atau Jenis Buku
Penulis resensi harus dapat mangadakan klarifikasi mengenai buku-buku itu. Dengan memasukkannya ke dalam kelas buku tertentu maka dengan mudah ia dapat menunjukkan persamaan dan perbedaan dengan buku-buku yang lain yang termasuk dalam kelompok yang sama itu. Dengan klarifikasi ia bisa melihat ke semua sis, dan secara lebih konkrit nanti memberi penilaiannya. Dengan mengadakan perbandingan itu pembaca-pembaca akan merasa tertarik, dan inginmengetahui lebih lanjut tentang isi buku tersebut secara terperinci.
c.          Keunggulan Buku
Faktor kedua yang dipergunakan untuk memberi evaluasi adalah mengemukakan segi-segi yang menarik dari buku tersebut. Buku-buku yang sama jenisnya dapat menunjukkan perbedaan yang sangat besar, baik dalam segi penulisan maupun dalam segi penetapan pokok yang khusus.
Mengenai keunggulan buku, penulis resensi pertama-tama mempersoalkan organisasinya. Yang dimasaud dengan organisasi adalah kerangka buku itu, hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya. Apakah hubungan itu harmonis, jelas dan memperlihatkan perkembangan yang masuk akal. Apakah bagian yang terdahuli menjadi sebab atau dasar bagi bagian yang menyusul.
Sesudah itu , baru kita menilai dari dekat dengan masuk ke dalamnya. Untuk melihat dari dekat sebuah buku, penulis resensi mempersoalkan bagaimana isinya.  Seoramg pengarang misalnya sangat cermat dan memberikan detail-detailnya, sedangkan pengarang –pengarang yang lain agak sembrono dalam detail-detail, tetapi lebih cermat dalam memberikan sugesti-sugesti dan kesimpulan.
Hal yang ketiga mengenai masalah keunggulsn buku adalah masalah bahasa. Bahasa yang digunakan padakaya ilmiah harus bersifat denotatif, hanya boleh menimbulkan satu penafsiranm sedangkan bahasa sastra memungkinkan orang untuk mengembangkan imaginasinya, bahasa harus bersifat konotatif. Kedua-duanya harus manggunakan bahsa yang baik. Bahasa yang baik dinilai dari struktur kalimatnya, hubungan antar kaliamat, serta pilihan kata yang dipergunakan. Semuanya akan menciptakan pula gaya bahasa yang dipakai.
Hal yang terakhir yang dapat dikemukakan oleh penulis resensi dalam memberikan penilaiannya adalah mengenai masalah teknik. Sebuah buku yang baik harus pula ditampilakan dalam wajah yang baik. Yang dimaksud dengan wajah disini adalah segala sesuatu yang yang menyangkut perwajahannya(lay out), kebersihan, dan lebih lagi pencetakannya. Kesalahan dalam mencetak kata-kata atau menempatkan tanda baca akan sangat mengganggu para pembaca. Sebab itu aspek yang tidak kalah pentingnya adalah memberi catatan mengenai kesalahan-kesalan pencetakan.
Seorang penulis resensi harus berusaha dengan tepat enunjukkan keunggulan buku itu dengan memberikan penilaian langsung, dengan dengan memberi kutipan-kutipan yang tepat dan menunjukkan pertalian yang kompak antara bagian-bagiannya. Menilai sebuah buku berarti memberi saran kepada pembaca untuk menolak kehadiran sebuah buku hanya dengan menyaoroti sebagian dari buku itu. Sebuah buku harus dinilai secara keseluruhannya. Penulis resensi harus tetap barusaha memberi kesan kepada pembaca bahwa penilaiannya telah diberikan secara jujur dan obyektif.
   
4.      Nilai Buku
            Dengan memberikan gambaran mengenai latar belakang dan mangmukakan pokok-pokok yang menjadi dasar penilaian, penulis resensi sebenarnya memberikan pendapatnya mengenain nilai buku itu. . Mengkritik berarti memberi pertimbangan, menilai dan menunjukkan kelebuhab-kelebihan dan kekurangan-kekurangan buku itu secara penuh tanggung jawab. Tugas pokok penulis resensi adalah mamberi sugestu kepada pembaca apakah sebuah buku patut dibaca atau tidak. Ia harus melukiskan dasar-dasar pendapatnya itu,serta criteria-kriteria yang dipergunakan untuk membentuk pendapatnya itu.
            Nilai sebuah buku baru akan lebih jelas bila dibandingkan dengan karya-karya lainnya, baik yang ditulis, oleh pengarang itu sendiri,maupun yang di tulis oleh pengrang-pengarang lainnya. Pendeknya ada banyak variasi dasar bagi resensi dengan mempergunakan ke empat sasaran di atas. Namun demikian sebagai seorang penulis resensi, pengarang harus iangat tujuannya, mengemukakan pendapat-pendapatnya dengan jelas, secara khusus dan selektif.

5.    Penerapan
Dengan tidak mengabaikan kemungkinan variasi membuat resensi atas sebuah buku atau hasil karya seni lainnya di bawah ini akan di kemukakan sebuah contoh resensi sebagai berikut dibawah ini:
Judul : Ekspedisi Citarum
Penulis : Tim Kompas
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Terbit : I, September 2011
Halaman : xxiii + 358 Halaman
Harga : Rp. 48.000.

Deforestasi atau pengurangan lahan hutan di hulu sungai sudah menjadi persoalan lama di Indonesia. Sungai-sungai besar di pulau-pulau utama di Indonesia mengalami hal yang sama.
Jika otoritas terkait tidak mengambil langkah cepat, maka masa depan sungai bakal terancam. Jika wilayah sekitar sungai disebut awal peradaban, maka peradaban manusialah yang terancam.
Buku ini mengetengahkan persoalan-persoalan yang tengah dihadapi oleh Citarum. Sungai yang mengalir sepanjang 269 kilometer itu, ternyata telah telah lama mengidap "penyakit" kronis.
Air yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya, adalah sebagian kecil penyakit kronis yang diderita oleh sungai dengan berbagai mitos itu. Belum lagi limbah rumah tangga maupun industri yang terus mengalir menuju Citarum.
Di bagian hulu saja misalnya, masih sekitar 700 meter dari danau Situ Cisanti, sungai yang menggerakkan turbin bendungan Jatiluhur, Saguling dan Cirata tersebut, sudah tercemar oleh limbah kotoran ternak sapi. Padahal aliran air sungai masih jernih di situ.
Hal ini diperparah dengan semakin berkurangnya vegetasi yang dapat menahan resapan hujan di sepanjang Citarum. Salah satu penyebabnya ialah berubahnya fungsi hutan, dari penahan resapan air menjadi lahan pertanian yang dikelola tanpa memerhatikan perubahan fungsi ini.
Di bagian lebih ke hilir, kondisinya lebih parah. Limbah industri tekstil, mengalir sepanjang siang dan malam menuju Citarum. Tidak mengherankan jika warna air sungai ini berubah di bagian hilir karena zat kimia. Hal ini jelas-jelas akan mengancam keberadaan ekosistem sungai.
Penyebabnya, pengelola industri tekstil tidak peduli terhadap lingkungan. Ini terbukti dengan dilanggarnya peraturan untuk melakukan pengolahan air limbah sebelum dialirkan ke sungai.
Tak ayal, sekitar 270 ton air limbah memasuki Citarum setiap harinya. Ini belum terhitung pabrik tekstil yang secara sembunyi-sembunyi membuang limbahnya pada malam hari lewat saluran air menuju sungai. Selain mencemari sungai, limbah ini telah mengganggu lingkungan sepanjang saluran air.
Dengan demikian beban Citarum kian berat. Limbah dan sampah yang dibawa anak-anak sungai Citarum menambah beban ini. Akibatnya, sungai yang seharusnya dapat memberikan kehidupan bagi penduduk Jawa Barat hingga Jakarta, terancam punah.
Persoalan paling mendasar dari semua ini adalah kurangnya pemahaman masyarakat terhadap arti penting Citarum. Sosialisasi setengah hati dari pihak terkait telah mendorong percepatan disfungsi sungai.
Pemulihan Citarum tidak dapat dilakukan dalam semalam. Butuh proses yang panjang untuk membenahi kerusakan yang terjadi merata dari hulu ke hilir. Hanya kemauan kuat dari pemegang otoritas yang dapat mengubah keadaan ini.
Selain laporan mengenai kondisi Citarum, buku ini juga mengungkapkan sejumlah potensi daerah. Sebut saja usaha comring (comro kering) di Cimahi yang dapat memberdayakan perempuan di wilayah tersebut.
Ekspedisi Citarum bukan sekadar laporan mengenai kondisi lingkungan hidup, melainkan juga sebuah renungan mengenai mengenai peradaban yang eksistensinya terancam.

Selasa, 13 Desember 2011

teman berantem nih...
meskipun begitu aku sangat menyanyangi mereka..
keponakanku....

Kecerdasan Ganda

jenis- jenis kecerdasan ganda
1. Kecerdasan bahasa
Contoh orang-orang yang memiliki kecerdasan bahasa yaitu:
  • Pengarang
  • Penyair
  • Wartawan
  • Pembicara
  • Pembaca berita
2. kecerdasan matematis
Contoh orang-orang yang memiliki kecerdasan matematis yaitu:
  • ilmuwan
  • matematikawan
  • akuntan
  • insinyur
3.  Kecerdasan spasial
Contoh – contoh orang yang memiliki kecerdasan spasial  adalah pelaut, pilot, pematung, pelukis daan arsitek. Kecerdasan spasial memungkinkan individu dapat mempersepsikan gambar-gambar baik internal maupun eksternal dan mengartikan atau mengkomunikasikan informasi grafis.

4. Kecerdasan kinestetis jasmani
Contoh-contoh orang yang memiliki kecerdasan kinestetik yaitu atlet, penari, ahli bedah, dan pengrajin.

5. Kecerdasan musikal
Orang-orang yang memilki kecerdasan musikal yang baik antara lain ; komposer, konduktor, musisi, kritikus musik, pembuat instrumen dan orang-orang sensitif terhadap unsur suara.

6. kecerdasan intrerpesonal
Kecerdasan interpersonal adalah kapasitas yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat memahami dan dapat melakukan interaksi secara fektif dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal akan dapat dilihat dari beberapa oranng seperti; guru yang sukses, pekerja sosial, aktor, politisi.

7. kecerdasan intrapresonal
8. kecerdasan naturalis

Senin, 05 Desember 2011

Sahabat sejati

 sahabat sejati, bukanlah sahabat yang selalu membenarkan, tetapi sahabat sejati adalah sahabat yang mampu membawa kita menuju jalan kebenaran,,,,,,

keluarga besar 2B

 kemesraan ini janganlan cepat brlalu.....


cantik-cantik kan?.....