Menurut
waluyo (dalam Susi, 2012:1) ada beberapa ciri pokok mantra, yaitu:
1. Pemilihan
kata-kata yang sangat seksama
2. Bunyi-bunyi
di usahakan berulang-ulang dengan maksud memperkuat daya sugesti kata
3. Banyak
dipergunakan kata-kata yang kurang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari
dengan maksud memperkuat daya sugesti kata.
Jika dibacakan secara
keras mantra menimbulkan efek bunyi yang bersifat magis; bunyi disebut
diperkuat oleh irama dan metrum yang biasanya hanya dipahami secara sempurna
oleh pawang ahli yang membaca mantra secara kera
Harun (dalam Susi, 2012:11) juga menjelaskan sebagai berikut:
Antara
ciri-ciri mantra ialah berbentuk puisi, isi dan konsepnya menunjukkan hubungan
yang rapat dengan sistem kepercayaan masyarakat, dicipta dan diabadikan dalam
satu perlakuan dengan fungsi tertentu dibaca oleh pawang atau bomo; dan
kepercayaan konsep teks serta amalan dan perlakuan dipraktekkan untuk tujuan
perseorangan maupun masyarakat sama dengan tujuan baik maupun jahat.
Sejalan
dengan itu, diungkapkan juga oleh Semi (dalam Jalil dan Elmustian, 2001:20)
menyatakan”bahwa mantra mempunyai ciri mementingkan irama dan perulangan
(repetisi). Irama dan repetisi ini tampaknya merupakan suatu alat untuk
mencapai emosional dan efek magis”.
Menurut
Jalil dan Elmustian (2001: 65) menjelaskan sebagai berikut:
Mantra
melayu Riau memiliki beberapa ciri yaitu: (1) Puisi mantra melayu terdiri dari
dua bentuk, yakni puisi mantra yang pendek dan yang panjang; (2) Puisi mntra
melayu terdiri atas dua pola: mantra yang berpola tetap dan mantra yang berpola
tidak tetap atau bebas; (3) Puisi Mantra yang berpola tetap ada yang mengikuti
bentuk atau bangun formal pantun, syair atu prosa berirama; (4) Puisi mantra
melayu yang berpola bebas tidak memntingkan jumlah larik, jumlah kata
perlariknya, dan kesamaan rima; (5) Puisi mantra dalam kata atau frasenya
senantiasa membawa atau mengacu pada perlambangan tertentu; (6) Diksi dalam
larik-larik mantra melayu menunjukkan citra tertentu; (7) Puisi mantra melayu
senantiasa terdiri atas satuan bahasa yang berefek magik; (7) Puisi mantra
melayu pada umumnya mengandung mitos religius dan mitos humanis atau natural.
Daftar Pustaka
Elda Kemala Sari. 2011. Analisis Gaya Bahasa dan Nilai-Nilai Yang Terkandung dalam Mantra
Pengobatan Suku Talang Mamak di desa
Talang Gedabu Kecamatan Rakit Kulim Kabupaten Indragiri Hulu.Skripsi. UIR
Saprianto. 2011. Analisis Gaaya Bahasa dan Makna dalam Mantra
Pengobatan pada Masyarakat Melayu Petalangan di Kelurahan Sorek Satu Kecamatan
Pangkalan Kuras Kabupaten Pelalawan.Skripsi. UIR
Rizal, Yoce. 2010. Apresiasi Puisi dan Sastra Indonesia.
Jakarta: Grafika Mulia
Arneng Zet. 2010. Bentuk dan Gaya Bahasa Mantra Pengobatan di
Desa Muara Petai Kecamatan Kuantanmudi Kabupaten Kuantan Singingi. Skripsi.
UIR
Jalil, Abdul dan Elmustian
Rahman. 2001. Puisi Mantra. Pekanbaru:Unri
Press
Susi Delvayanti. 2012. Analisis Mantra Pada Upacara Perkawinan Adat Masyarakat Melayu di Desa
Terbangiang Kecamatan Bandar Petalangan. Skripsi. UIR
Dian Mariati Satrya. 2009. Gaya Bahasa dan Citraan pada Mantra Pengobatan Suku Akit di Desa Hutan
Panjang Kecamatan Rupat Kabupaten Bengkalis. Skripsi. UIR
Ade Putri Wulandari. 2012. Analisis Mantra Lisan Desa Tanjung Balam Kampar. Makalah. UIR
Departemen
Pendidikan Nasinal. 2008. Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta:PT
Gramedia Pustaka Utama
Hamidy, UU. 1999. Dukun Melayu Rantau Kuantan Riau. Pekanbaru:Universitas Lancang
Kuning Press
Tidak ada komentar:
Posting Komentar